Halaman

20 March 2008

Child Maker

Cobalah lihat di sekitar kita, apakah banyak ibu-ibu muda yang baru berumur 17-21 tahun? Kalaupun tidak banyak, pastilah ada dan lebih dari satu orang. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang 'tumbuh' karena paradigma pemikiran dan pola pergaulan yang kurang 'terdidik' -terarahkan.

Bayangkan saja, seusia mereka sudah mempunyai tanggung jawab yang besar yaitu mendidik generasi-generasi baru yang nantinya akan memegang tampuk -kendali bangsa.

Padahal, banyak diantara mereka yang menguasai dan menjaga dirinya saja tidak sanggup. Mereka berumah tangga lantaran dorongan yang sebenarnya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Karena hawa nafsu, dorongan ekonomi, suruhan orang tua karena anaknya terlalu nakal dalam bergaul, karena 'kecelakaan', karena takut kekasihnya direbut orang lain, dll.

Semua itu nantinya tentu akan berdampak pada psikologis -kejiwaannya. Bahkan, kecenderungan bubarnya pernikahan akan lebih besar peluangnya. Pada usia itu dominasi emosional lebih kentara dan memengaruhi jiwa serta pemikiran.

Akan tetapi, lain halnya dengan anak perempuan yang memang sudah siap secara keilmuan dan kedewasaan berpikir. Meskipun masih relatif muda ia akan mampu menjalani amanah yang ia emban. Tetapi tetap, bimbingan dan arahan dari orang yang berpengalaman terutama orang tua atau keluarga sangat penting.

Perkara ini tidak melulu ada pada kaum hawa, tetapi pun terjadi pada kaum adam. Hanya frekuensinya berbeda

19 March 2008

>>> JAS MERAH, pakailah!


Jas Merah, sesuatu ungkapan yang mampu membuat bangsa ini bangkit dan maju dengan percepatan yang luar biasa. Betapa tidak, jika manusia Indonesia mampu menghayati dan mengamalkan apa-apa yang terkait dalam 'Jasmerah' maka, aku benar-banar yakin akan semua kemajuan bangsa secara signifikan.
***
Ketika aku duduk di bangku Tsanawiyah ada pelajaran yang sangat aku sukai, yaitu SKI, Sejarah Kebudayaan Islam. Saat itu aku benar-benar tergila-gila akan pelajaran itu. Namun aku tidak hendak mengungkap hal itu, yang aku ungkapkan adalah kebenaran yang kini aku temukan yang dahulu mungkin tidak sejelas ini.

Saat aku belajar, dijelaskan tentang kehebatan-kehebatan Dari Daulah Umayyah dan Abbasiyah yang keduanya memimpin ke-khalifah-an Islam setelah masa Khulafaur Rasyidin. Yang aku ketahui saat itu adalah mereka memimpin Islam dengan baik, sepertinya tidak ada cela. Sekarang aku tahu bahwa ternyata dari kedua Daulah tersebut hanya sedikit khalifah yang benar-benar menjalankan syariat Islam.

Bahkan yang membuat aku miris dan haru ketika para ulama yang memegang teguh kebenaran mati syahid bersimbah darah keimanan di tangan para penguasa dzalim Umayyah dan Abbasiyah. Sebut saja Abu Hanifah, Ahmad bin hambal, dan ulama-ulama kharismatik lainnya. Sungguh itu benar-benar membuat aku heran, bukan kepalang.
***
Kembali ke 'Jasmerah', dengan hal ini kita akan mengetahui segala kesalahan umat pada masa lampau, pemerintahan yang kacau, umat-umat yang durhaka, dll. Tentu saja jika kita memang mengambil pelajaran dan memang benar-benar mempraktikannya pada kehidupan kita sekarang.

Ya, Jasmerah "Jangan Sekali-kali Melupakan sejarah". Karena dengan sejarah kita dapat belajar dan menumbuhkan semangat dikala kita down. Kita akan merasa tergugah manakala kita membaca betapa semangatnya para pejuang -pahlawan bangsa, kita pun tergugah manakala kita membaca diary yang merupakan sejarah hidup kita.

Pokoknya, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tapi inget, baca dan gali sejar
ah dari sumber yang memang dapat dipertanggung-jawabkan agar nilai-nilai luruh tetap terjaga. Wallahu'alam.




16 March 2008

>>>Biar Nggak Penat ...?! Ngapain ya..?

Remaja atau yang mengaku "remaja"pada era sekarang, tapi sepertinya memang dari dulu senang bila memiliki pendamping 'pacar'. Mereka merasa pede jika mereka sudah punya doi dan merasa minder jika belum memiliki si doi.

Inilah salah satu sifat manusiawi. Manusia inginkan tempat curhat, orang yang mau mendengarkan dan "menyanginya". Dengan memiliki pacar atau kekasih maka ia mampu mencurahkan sebagian atau mungkin semua unek-unek yang ia miliki kepada sang kekasih.

Dari situ kita bisa mengambil salah satu kesimpulan bahwa seseorang membutuhkan tempat untuk melepaskan penat di kepalanya, dan salah satu caranya dengan curhat atau berbagi.

Senang berbagi, itulah hal yang perlu kita lakukan. Kenapa demikian? Karena dengan berbagi maka secara psikologis akan mengurangi tekanan batin kita dari hal-hal yang membebani pikiran kita. Tentu saja tidak melulu dengan memiliki pacar atau kekasih. Apalagi, jika kita termasuk orang yang sangat menaati peraturan agama maka hal ini sangat terlarang.

Kita sebenarnya dapat mencurahkan sesuatu yang menjadi unek-unek kita dengan cara lain, misalnya dengan menulis diary, sharing dengan sahabat-sahabat, konsultasi dan lain sebagainya yang sesuai dengan kesenangan dan minat masing-masing.

Tentu akan lebih baik bila cara kita melepaskan penat adalah dengan sesuatu yang positif dan nantinya akan menjadi nilai tambah bagi kehidupan kita. Baik itu berupa materil ataupun spirituil. Dengan demikian maka kita akan mendapat dua keuntungan, yang pertama keuntungan saat kita melepaskan penat saat itu dan yang kedua adalah keuntungan pada suatu hari nanti karena kita melakukan sesuatu yang positif. Semoga.