Halaman

12 March 2008

>>Refleksi<<

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, apapun itu. Asalkan, kita mau berpikir jernih dengan dibarengi jiwa atau hati yang jernih pula.

Setiap hari, selama kita hidup pasti akan ada kejadian yang baru. Baik itu memberikan kesan yang mendalam atau biasa-biasa saja. Kejadian-kejadian yang kita alami tersebut terus bertambah dan terakumulasikan menjadi sebundel pengalaman yang nantinya akan kita gunakan, baik kita sadari atau tidak.

Seperti halnya ketika kita pertama kali naik busway di kota megapolitan Jakarta, atau pertama kali naik lift di gedung percakar langit. Hal itu sepertinya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Padahal, kalau kita adalah orang kampung, daerah yang jauh dari keramaian kota maka hal itu adalah sesuatu yang sangat berkesan dan mungkin sesuatu yang tidak akan terulangi lagi di lain waktu karena hanya sekali-kalinya.




05 March 2008

Ketika aku liburan minggu kemarin ada sms yang masuk. Tahunya itu dari bekas tempat kerjaku. Ada konfirmasi rupanya.
Aku pernah berkata lewat sms kepada teman yang menjadi pengganti aku di kantor tersebut.

"...afwan akhi antum jadi korban..."

terus ternyata -mungkin sms itu sampai kepada seseorang yang memang berkepentingan dengan hal itu dan bilang padaku,

"Emang antum dikorbanin apa di ...( tempat kerjaku dulu) bukannya semua sudah sesuai kesepakatan?"

Kalau menurut kamu nyambung tidak komentar seperti itu? Aku jadi ketawa sendiri. Mudah-mudahan sih tidak gila.

Padahal secara nalar juga hal itu sudah jelas, maksudku orang yang menggantikan aku itu jadi korban dalam artian itukan hanya bahasa percakapan dikarenakan dia dapat tugas dari ketidakadaannya aku di situ.

Jujur saja, aku sudah melepaskan semua hal yang berkenaan dengan hal-hal yang memang tidak mengenakan bagi diriku. Baik itu karena pandanganku atau pun jelas-jelas karena ketidakadilan yang menimpaku. Aku serahkan semuanya kepada-Nya.

Terserah orang mau berpendapat seperti apa, yang jelas aku jadikan semuanya sebagai pelajaran agar suatu hari aku dapat menghadi masalah-masalahku dengan baik dan benar. Amin

sedikit curhat

Hasil perjalananku selama empat hari memberikan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Benarlah kalau berjalan bermusafir melihat keagungan Allah dapat memberikan pencerahan. Mentadaburi alam yang memiliki banyak keindahan memberikan inspirasi dan semangat bagi kita untuk terus mencari keridhoan Allah lewat jalan yang memang kita kuasai.

Bersilaturahim dengan teman, guru-guru, adik-adik kelas, kenalan-kenalan memberikan sedikit sesuatu untuk dijadikan i'tibar bagi kemajuan wawasan -cakrawala berpikirku. Bernostalgia dengan keluarga yang notabene adalah orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah, tetapi memiliki kekuatan ukhuwah yang luar biasa. Tidak bisa tergoyahkan dan terpecahkan dengan bergulirnya waktu yang memisahkan masa kebersamaan, dengan berbedanya tempa yang memisahkan tempat berkreasi. Namun, ketika kita kembali bertemu dengan mereka maka mereka pun membuka diri, menyapa dan berlaku selayaknya. Itulah hal yang mungkin dan memang benar kita butuhkan untuk memondasi jiwa ukhuwah kita. Wallahu'alam