12 September 2018
Cara Menghilangkan Compatibility Mode pada Ms. Word 2007
12 July 2015
Kembali
untuk kembali kepada-Mu"
03 May 2015
PERLAMBATAN EKONOMI YANG SEMAKIN CEPAT
LAMPU ORANYE SEDANG MENYALA:
SIAGA DAN WASPADALAH
COPAS dari pkspiyungan.org _____
COPAS
Artikel by
Pak PAULUS BAMBANG W. SANTOSO
(Presdir UNITED TRACTORS & ASTRA GROUP)
***
Optimisme mendadak terhenti. Pesimisme mulai bersemi. Itulah situasi yang sedang kita hadapi di ekonomi riil bangsa kita. Euforia Konferensi Asia Afrika dengan gemelegar pidato dan acara seakan menjadi penyejuk sejenak untuk mengobati kepenatan masyarakat, termasuk para kepala negara dan kepala pemerintahan yang hadir disini.
Bayangkan, ditengah optimisme politik Asia Afrika, bayangan kemuraman ekonomi semakin nyata. Tidak dapat disangkal lagi, semua sedang menghadapi krisis perekonomian yang tak mudah dicari obatnya.
China, sebagai penggerak ekonomi Asia, semakin terpuruk dengan tingkat pertumbuhan hanya sekitar 7 persen mendampingi indeks manufaktur yang sudah dibawah 50 sebagai titik nadir pertumbuhan. Afrika Selatan sebagai anggota BRICS juga tidak bisa diharapkan menjadi pendorong kelompok Afrika. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Kuartal 1 tahun 2015, mengikuti trend penurunan sejak kuartal 4 tahun 2014, semakin menunjukkan gejala LAMPU ORANYE (SIAGA DAN WASPADA). Artinya sudah melampaui LAMPU KUNING (HATI HATI) tapi belum sampai ke LAMPU MERAH (BAHAYA).
Sektor Makanan dan Minuman sudah turun 10 persen mendampingi sektor lain yang selama ini jadi andalan ekonomi domestik. Kelesuan ini sangat dirasa, bahkan banyak pengusaha resto maupun rumah makan kecil sudah merasakan dampaknya secara nyata. Pengunjung sepi. Kalau mall masih ramai, hanya untuk sarana rekreasi dengan belanja seadanya. Banyak yang menahan diri untuk berbelanja. Itu sebabnya banyak pengusaha yang mulai jor-jor-an obral diskon.
Saya bukan bermaksud menjadi ekonom, untuk menakut nakuti anda. Tapi paragraf awal ini hanya gambaran sederhana untuk menunjukkan kondisi perekonomian dunia dan kita sedang menuju perlambatan yang semakin cepat.
Nah, ini yang saya mau bagikan. Bukan soal bagaimana membuat ekonomi bergairah tapi bagaimana mempersiapkan diri agar kita tetap bisa SURVIVE kalau krisis tejadi.
Prinsipnya sederhana saja: kita harus mengatur keuangan kita, sehingga 'KALAU EKONOMI TAMBAH BURUK, KITA MENJADI ORANG TERAKHIR YANG TERKENA DAMPAK, TAPI KALAU EKONOMI MEMBAIK KITA MENJADI ORANG PERTAMA YANG MENIKMATINYA'.
Bagaimana strateginya?
Pertama, perketat PENGELUARAN anda. Tunda yang tidak perlu, kurangi yang perlu, batalkan yang hanya berupa keinginan.
Dalam kondisi sulit, pendapatan akan semakin sulit bertambah, itu sebabnya yang bisa meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga adalah mengurangi pengeluaran.
Caranya: matikan lampu yang boros, kurangi jajan diluar, stop investasi walaupun diskon yang ditawarkan menggiurkan.
Kedua, lunasi HUTANG anda secepatnya, apalagi hutang dengan menggunakan kartu kredit. Ingat dalam kondisi krisis, bunga hutang akan membunuh anda pelan pelan karena orang yang berhutang akan menjadi budak orang yg menghutanginya.
Ketiga, alokasi TABUNGAN anda ke sumber pendapatan yang terdiversifikasi dengan baik, entah itu deposito, saham, tanah, property, mata uang asing.
Keempat, berani CUT LOSS kalau investasi anda sudah menurun misalnya property atau saham kalau itu didanai dengan hutang bank apalagi kartu kredit. Keyakinan akan lebih baik, lebih untung, hanya ada ketika ekonomi tumbuh baik. Ini menyebabkan banyak orang berani berhutang untuk spekulasi. Sebaiknya dalam kondisi lampu oranye, konsep itu segera diamputasi.
Kelima, ini yg terakhir tapi paling penting. Jangan paranoid, jangan panik tapi tetap optimis walapun waspada. Perbanyak CASH dan tabungan LIKUID anda, karena ketika kondisi semakin memburuk anda bisa membeli asset dengan harga sangat miring, orang yang BU alias BUTUH UANG akan mendiskonto dengan besar. Kesempatan bagi anda memiliki assets produktif dengn harga 'murah'.
Itu sebabnya saya sering berujar, dalam kondisi sulit CASH IS KING, dalam kondisi resesi CASH IS CAESAR.
Goodluck...semoga. bermanfaat.
10 June 2013
Rhoma Irama Presiden RI 2014 - 2018
20 February 2013
Mobile Blogging
Iseng-iseng nyari aplikasi blogger di google market ternyata sudah ada, atau bahkan mungkin sudah lama ada hanya aku-nya saja yang tidak mencari. Maklum sudah sangat lama aku tidak aktif lagi buat tulisan di blog-blog-ku. Padahal, dulu ketika baru kenal internet sekira tahun 2006 kemudian menemukan artikel di koran tentang blog, aku langsung bergairah untuk buat blog.
Aku mulai membeli buku-buku yang ada kaitannya tentang pembuatan blog. Lebih dari tiga buah buku sudah aku beli, bahkan aku baca sampai buku itu lusuh.Biasanya aku tidak pernah membiarkan buku-ku lusuh.
Lama tidak nge-blog aku juga jarang nulis lagi, nulis buku harianku atau opini dari berbagai masalah yang terjadi di sekitarku maupun opini tentang panggung Indonesia dan dunia. Aku kehilangan niat dan cita-citaku yang dahulu. Memang tidak hanya tentang menulis, banyak hal lain yang aku rasa telah hilang akhir-akhir ini; sesuatu yang penting namun sekarang membuatku rumit dan bingung harus memulai semuanya dari mana.
Aku butuh sebuah titik. Titik dimana aku bisa menyusun kembali bangunan-bangunan jiwaku yang telah runtuh. Titik tolak. Ya, sebuah titik tolak yang aku butuhlan saat ini. Entah lewat apa aku akan mendapatkan titik tolak itu, aku hanya dab masih menunggu. Aku rindu.
Berbagai fenomena memang banyak terjadi lima tahun terakhir ini. Semuanya menjadi berita heboh saat di awal dan membuat semua saraf tertuju pada masalah tertentu. Namun, tidak lama berselang datang masalah lain yang muncul dan menenggelamkan masalaj sebelumnya yang belum selesai. Aku terkadang berpikir lebih baik aku tidak mengetahui masalah yang sedang jadi topik berita dan diskusi, tetapi rasanya sangat disayangkan. Aku sering melihat mereka yang acuh tak acuh akan berbagai perkembangan sekitar.mereka. Mereka seakan santai dengan pikiran mereka dan hanya fokus pasa rutinitas yang harus mereka lakukan; namun pada akhirnya mereka jadi seaeorang kuper atau bahkan menemukan sesuatu yang baru yang bermanfaat karena lebih senang mengeksplorasi kemampuan mereka dibandingkan dengan mengurusi isu-isu yang tidak penting. ... bersambung ...
22 June 2011
Cigarette

A women exhales cigarette smoke inti the mouth og a gaunt, naked patient at a Jakarta clinic where tobacco is a openly touted as a cancer cure.
The western patient is suffering of emphysema, a condition she developed from dekades of smoking. Along with cancer and autism, it's just one of the ailments the Griya Balur clinic claims it can cure with cigarettes.
"I miss this", say the women, a regular patient, with an American accent.
Griya Balur would be shut down in many parts of the world, but not here in Indonesia, one of the new frontiers for big tobacco as it seeks to replace its dwindling profits in the health-conscious West.
Long traditions of tobacco use, combined with poor regulation and the billion of dollars that flow into goverments coffers from the tobacco industry, mean places like Griya Balur go unchallenged.
The "treatment" for the emphysema suffered includes the blowing of smoke from "divine cigarettes" infused with "nanotechnology" to remove their cancer-causing "free radicals," through a tube into her diseased lungs.
Smoke is also blown into her ears and nose, while she holds a cup of aspirin over her right eye. (---to be continued)
20 January 2011
Love your city, love your Ciliwung
The Jakarta Environment Management Board (BPLHD) said Saturday it would hold regular campaigns to discourage Jakartans from dumping trash into the Ciliwung River.
"We will continuously hold events to raise public awareness of the negative effects of polluting the river. We hope that by 2012, the city residents will no longer throw their garbage into the river," said Peni Susanti, the head of the board during a campaign to promote a cleaner Ciliwung River in Lenteng Agung subdistrict, South Jakarta.
Many city residents throw their trash into the Ciliwung River and other rivers in the city. According to the administration, 600 tons of trash is dumped into these rivers daily. read more ...
17 January 2011
Diary of a disaster: SurfAid International to the rescue
The following morning SurfAid’s Tom Plummer, (Mentawai program manager) suspecting disaster at Macaroni’s, arrived from Padang to find everything destroyed up to a level of 3 meters. All the bungalows were gone, however the well-built three-story building had saved the lives of everyone.
The guests had experienced and filmed the series of tsunami waves from the top floor. They also observed a fire at sea nearby to the famous surf-break, where two surf travel boats were moored.
The wave crashed the vessels together and “Midas” burst into flames. All jumped overboard and miraculously made it to shore, and clung to trees during the subsequent waves. They then joined the shocked band of surfers. All were returned to Padang, on a boat sent by SurfAid with nothing but the clothes they were wearing.
Surfers can swim, they understand what’s going on, and are good at keeping their nerve. These skills would have saved them. CEO of SurfAid International, Andrew Judge, told The Jakarta Post “The skipper of Midas, Rick Hallett, will return this week to help in the aid effort, after a quick trip home to Australia to hug his children.”
***
At 9:45 p.m. on Oct. 25, an undersea 7.7-magnitude earthquake struck with an epicenter located just south of South Pagai Island, West Sumatra, and created a tsunami which at exposed villages nearby was reported to be six meters high.
SurfAid International sprang to action the following morning, knowing that many of what they call “their communities” — the low lying and seaside Mentawai villages, would be in a state of catastrophe.
Along the coasts of the islands of Sipora, North and South Pagai, villages were washed away entirely, and hundreds of village people died or were badly injured. Those who survived ran into the inland areas, and for days afterwards were afraid to come out, fearing more tsunamis.
SurfAid’s website states that tsunamis kill a disproportionately large number of women, children and the elderly, because they have less strength to hang on, as the wave recedes.
On Oct. 26, SurfAid’s representatives immediately began to explore all of the affected areas, searching out the local people and bringing what help they could.
On Oct. 27, SurfAid launched their appeal, and began coordinating with the Mentawai Disaster Mitigation Agency (BPBD) to undertake a rapid assessment and initial response.
On Oct. 28, Vice President Boediono visited Padang and met with the CEO, Andrew Judge. The following day the vice president requested SurfAid temporarily take the lead in coordinating the NGOs, to which the CEO of SurfAid responded: “To take the lead coordinating role in this disaster is a great honor and a huge level of responsibility.”
The most vulnerable: Children from the hamlet of Limo Sua, South Pagai, wait to receive treatment after the earthquake and tsunami that struck Mentawai Islands.JP/R. Berto Wedhatama On Oct. 30, a massive storm approached the area, and for several days no boats could go to sea
except for the large vessel “Indies Trader IV” and the smaller “Indies Trader III”.
One aid vessel carrying generators was capsized by a huge wave, however luckily all five people aboard were rescued.
Judge said the “Indies Trader IV”, which is the largest boat in the Mentawai area, was funded by the New Zealand government with an immediate donation of US$100,000 so that work could continue during the storm.
Even the regular ferry from Padang, “Ambu Ambu” was forced to turn back. It’s a 150-kilometer crossing from Sumatra.
Of course the affected villages are mainly on the Western side of the islands, where the full exposure to Indian Ocean swells posed huge difficulty for the aid flotilla.
There are no piers, only dangerous beach access, often across reefs. There are a limited number of access points and supplies sometimes must be transported overland in places where there are no roads.
The storm also made life even more miserable for the bereft and terrified village people of the Mentawai Islands still awaiting aid. They had no shelter, and were unable to even change their clothes. Everything they had was gone.
SurfAid and helpers have now distributed tarpaulins, mosquito nets, hygiene kits, building kits,
rice, noodles, medical supplies, kitchen kits, cooking oil, blankets, towels, clean water, floormats, ropes — and other necessities, although at the time of writing the weather was still bad.
Many of the aid vessels which SurfAid International coordinates and enlists for the rescue effort are privately owned charter boats, which usually ply these waters, taking the world’s surfers to ride
the legendary waves of the Mentawai Islands. They have their own boat, and some local long boats are also assisting.
On Nov. 1, Plummer and news media arrived at the island of North Pagai, and filed a video report from the place that was once the village of Gogoa.
He said, “I’m blown away by what we have seen here. So much destruction, and so many lives lost. There’s nothing left. Survivors are so shattered and scared they cannot even eat, even if food is available, and in many cases they are running short of it. They are surviving on coconuts and rainwater.
They are living in the mud, trying to shelter from rain. There are no sanitation facilities. Their survival threshold is very narrow.”
Tom also commented on the difficulty of reconciling the idea that just behind him, over the palm trees, was another well-known surf break, “Bat Cave”, where boatloads of surfers regularly come to have fun and enjoy the waves.
Californian surfing industry identity, Bob Hurley, and his surfing mates have abandoned their surf trip to assist in the relief effort.
Homeless: A little girl waits for aid, following the loss of her home in the tsunami. Courtesy of SurfAid International On Nov. 4, Judge told the Post they had handed over the leading role to the UN.
“The Indonesian government identified SurfAid as a key partner right after the disaster and we have done all we can to report on the situation in the Mentawai area as quickly as possible and respond to the needs, through extreme weather.
“As a Mentawai based NGO, we have a lot of local knowledge, we have been providing all we know to the government of Indonesia and other NGOs so as to best assist the people of the Mentawai,” Judge said.
He added that representatives from 160 Indonesian and international NGOs had arrived to offer help, including the Indonesian Red Cross (PMI), Mercy Malaysia and International Organization for Migration (IOM).
However many were stuck in the town of Sikakap, on the eastern side of North Pagai Island, and because of the bad weather conditions and lack of infrastructure, these organizations were unable to get to the locations where help is needed.
While saluting their well-meaning motivations, The government of Indonesia and SurfAid have suggested that those who cannot arrange to do anything should leave the stressed town of Sikakap, whose population has doubled. They began to depart on November 5.
On the Nov. 5, SurfAid’s Plummer reported that on the previous day, they had been able to fight their way through wild wind and seas on board “Indies Trader IV” to bring aid to the villages of Limu, and Limo Sua on South Pagai Island, where this hamlet of 33 households formed a line, including smiling children, to help unload a tin boat full of welcome supplies.
“It’s been the worst weather conditions in three or four years with a 3-4 meter swell running,” Tom reported. Because conditions got worse, they were unable to go on to Maonai Village until the next day.
The SurfAid International NGO was started 10 years ago, by Dave Jenkins, a New Zealand surfer, who took a surfing trip to enjoy the Mentawai area’s excellent waves, and went ashore, where he saw the desperate ill health of the locals and the need for education.
He just couldn’t forget what he’d seen, and he struggled for quite a while to raise funds to help, eventually enlisting the mega surfing industry corporations of the world into the effort.
He knew then that SurfAid would survive and since that time they have achieved some amazing improvements for the local people with education in health and hygiene, and wide distribution of mosquito nets.
Nature growls: Some of the island’s buildings have been flattened by the tsunami that hit South Pagai Island more than a week ago. JP/R. Berto Wedhatama However SurfAid’s work has been interrupted by no less than five catastrophes, in the form of earthquakes and associated tsunamis. One was of world-shattering proportions, when a 9.2-magnitude earthquake struck on Boxing Day of 2004, off the coast of Aceh, and the ensuing tsunami’s destructive power and reach is well known.
A few months afterwards, another massive earthquake struck the island of Nias — another favorite destination of surfers — for the famous waves at Lagundri Bay.
The people of the Mentawai Islands will need help for a long time after this disaster has disappeared from news headlines.
SurfAid International and others will be working in the area for a long time to come. They’ve budgeted $2.86 million for future work, and one-quarter needs to come via their public appeal for donations.
SurfAid International and the surfing community of the world now have a long lasting and permanent connection and commitment to the Mentawai Islands, and the islands further to the West.
It’s a cultural exchange — caring and assistance, in exchange for the opportunity to enjoy some of the world’s best waves, and the friendship of the local Indonesian people.
10 January 2011
Hati-hati !

Bukan rahasia lagi, jika jejaring sosial saat ini telah menjadi kebutuhan pokok jutaan umat manusia. Bukan kebutuhan setiap hari lagi, melainkan kebutuhan setiap saat -saat dimana ia memiliki waktu sedikit luang, maka ia akan menjambanginya.
Kecanduan, Mungkin. terkadang terlintas dalam fikiran yang tak sengaja membaca status orang lain, yang isinya mencurahkan segala rasa yang kalu tidak salah hal tersebut ditujukan untuk Tuhannya. Lalu, kenapa di facebbok? Padahal facebook adalah tempat manusia berkerumun. Jangan-jangan, kita sudah melupakan dan ceroboh. Walaupun tentu kita selalu punya kecerobohan. Tapi, rahasia kita dengan Tuhan kita, tak perlulah di-share kemana-mana. Bukankah itu akan merusak kesakralan. (semoga saja tidak demikian).
Tentu lain halnya jika sesuatu perasaan tersebut memang kita bagi. Tapi tentu kita bisa memilah. Mana yang akan dibagi dengan manusia, mana yang memang akan kita bagi dengan Sang Pencipta kita. Kebablasan, Semoga saja tidak.
Mungkin sekarang kita lupa bahwa tempat yang tepat berharap adalah ditempat sujud dan waktu utamanya adalah di akhir malam. Bukan di facebook.
Dulu, kita mungkin sangat sedih bila kita terlewat untuk bermunajat di malam hening, sekarang kita sedih kalau kita tidak bisa update status atau patroli dunia maya, melihat status teman dan komentar-komentar, dan ditongkrongi walau sampai larut malam pun.
Yang mpunya, mungkin tertawa terbahak-bahak dengan semakin banyaknya pengguna facebook. Dia bisa membuat candu untuk kita semua dan membuat frekuensi lupa kita semakin bertambah.
Semoga kita semua mendapat hikmah dibalik segala fenomena.
19 May 2010
Dia Terus Tersenyum

Dia tetap tersenyum. Dalam kelelahan dan rasa jenuh yang sangat. Dia berusaha menghibur dirinya dengan senyuman. Ya, bagaimana tidak, dia bekerja lebih parah dibandingkan buruh yang bekerja kasar walaupun dalam kasat mata ia berseragam rapi, berdasi, ber-jas, dan dengan sepatu bersemir. Karena, keserakahan manusia yang memeras habis keringatnya dan memeras darahnya.
Pegawai kontrak, buruh, bukan. Dia adalah budak kesemena-menaan dan keserakahan. Setiap hari keringatnya terus diperah, tetapi hak-haknya sama sekali tidak diberikan. Hanya mungkin upah yang seminim-minimnya yang ia dapatkan. Entahlah, semoga saja semua itu dapat tetap menjadi ladang bersyukur baginya dan anak istrinya sehingga suatu saat ia mendapat yang lebih baik dari Yang Maha Penyayang; Allah Azza Wajalla. Amin.
KORUPTOR, TEMBAK DI TEMPAT!

Teroris, sejatinya memang sangat membahayakan ketika mereka melakukan aksinya. Tetapi ketika mereka diam, berbaur dengan masyarakat sekitar, mereka tidak mengganggu keamanan dan ketertiban. Malahan mungkin, mereka termasuk pribadi-pribadi yang sangat menghormati orang lain dan menjunjung tinggi prikemanusiaan.
Selain isu teroris, hangat pula isu korupsi (koruptor). Sebenarnya bukan isu, melainkan sudah menjadi kasus. Padahal, teroris tidaklah lebih berbahaya dibandingkan koruptor. Koruptor setiap detik bisa membuat rakyat menderita tanpa terkecuali. Bahkan mungkin atau pasti, salah satu alasan calon-calon teroris untuk melakukan aksi teror tersebut adalah karena rasa muak mereka kepada para Koruptor yang berkeliaran, bebas menghirup nafas sambil meminum darah rakyat negeri ini. Dan alasan itu mungkin. Sedangkan, tidaklah mungkin, seseorang korupsi karena muak dengan adanya aksi terorisme.
SIapa yang berwenang memerintahkan menembak mati di tempat terhadap teroris? Apakah Kapolri atau Presiden?
Siapapun yang berwenang memerintahkan hal tersebut, mengapa tidak juga diberikan perlakuan yang sama terhadap terduga koruptor? Apa karena ada praduga tak bersalah? Lalu, tidak demikiankah untuk para terduga teroris? Mungkin saja orang-orang yang dibunuh oleh Densus 88 tersebut bukanlah teroris. Mungkin dia lari karena takut; pernah mencuri atau melakukan kejahatan lain dan kebetulan berada di lokasi yang dianggap tempat teroris.
Harusnya, bagi terduga koruptor juga langsung saja di tembak mati di tempat kalau perlu dibom di tempat. Kalau Densus 88 ditanya, tinggal jawab saja terduga koruptor hendak melawan dan membahayakan jika tidak dibunuh.
Jika ternyata yang tertembak itu adalah benar koruptor berarti bagus. Jika yang tertembak itu ternyata bukan koruptor, tidak apa-apa, karena berarti orang tersebut mati syahid (mungkin). Jadi, jangan ragu-ragu. Koruptor; tersangka atau terduga tembak mati saja! Ya minimal samakan dengan teroris maksimalnya dibunuh di depan masyarakat. Karena Hak Asasi Manusia tidak berlaku untuk manusia yang melampaui batas Hak Asasi Manusia orang lain.
17 May 2010
Evaluasi Lagi!
Sebagai manusia apalagi seorang Islam terkadang bahkan mungkin selalu, kita lupa akan rasa syukur ~berterima kasih kepada Allah Azza wajalla yang tidak pernah mengurangi sedikitpun jatah kita di dunia ini. Sedangkan kita, ada anak yang sengaja datang menghampiri kita di lampu merah saja kita cuek; acuh tak acuh. Padahal uang Rp 1000 yang kita berikan dapat membuat hatinya (mereka) tentram dan riang gembira. Lalu, mengapa kita pelit saudaraku. ...
29 August 2008
Raih Berkah Ramadhan
Padamu ada bonus bagi kami, pelipatgandaan pahala, yang sunat senilai wajib, yang mubah senilai sunat.
Tapi sayang, rasanya kami sama sekali tidak senang akan kedatanganmu. Bahkan kami merasa berat untuk memasukimu wahai Ramadlan mulia.
Semoga saja aku, kita bisa meraih segala kebaikan yang ada pada bulan Ramadlan kali ini. Amin
27 July 2008
Pensiun sama dengan mati ...
Hanya, saat ini aku belum bisa menikmati fasilitas blogger secara maksimal ...
prestatif.wordpress.com
09 July 2008
Jalan-jalanlah!
15 June 2008
Bank Jadul
Pada masa modern sekarang ini pun ternyata orang masih menggunakan alat tradisional ini. Buktinya, masih banyak celengan yang dijual di warung-warung. Entahlah, padahal sekarang ini banyak bank. Bahkan ada pula bank yang mendatangi kita, tanpa harus kita capek-capek datang ke kantor bank untuk sekedar menyetor uang.
Mungkin ada kenikmatan atau apa gitu jika kita menabung di celengan. Dahulu di kampung, karena tidak punya uang unuk membeli celengan, banyak anak-anak yang kreatif dan membuat sendiri celengan dari bambu. Meskipun tidak baik untuk uang kertas karena bisa jadi kalau kelamaan dimakan kutu.
Bagusnya, semua itu memberikan kita pelajaran jika kita memang mau berpikir. Kita ini harus menabung guna mempersiapkan sesuatu untuk masa depan, hari esok. Walaupun umur kita belum tentu sampai hari esok, tetapi kita tetap opstimis jika kita menabung.
Dan sekarangpun baru saja aku membeli dua celengan yang harganya cuma seribuan. Untuk apa? Belum jelas. Yang jelas mudah-mudahan dengan semua ini aku bisa mengamalkan hidup hemat, dan tidak lagi asal beli padahal tidak butuh atau hanya ingin (hawa nafsu). Semoga
26 May 2008
Lagi-lagi berharap
Tapi semua itu (bersambung)
26 April 2008
Mang-mang
Ada beberapa tempat yang telah aku kirimi surat ketersediaanku untuk menjadi bagian dari keluarganya, baik lewat surat ataupun lewat email. Ada yang sudah memanggilku tetapi belum ada kelanjutan, adapula yang memang sepi.
Sambil menunggu kesepianku akan rutinitas yang memang aku harapkan, aku pun tetap terus mengaktualisasikan diri dengan berbagai cara. Sampai, beberapa hari yang lalu ada yang memanggilku untuk psikotes. Padahal sekarang ini aku sedang berusaha memasuki sebuah lembaga pendidikan formal; bukan untuk belajar, tetapi untuk bekerja.
Memang sulit, dikala sesuatu lagi tanggung-tanggungnya eh...ada yang membuat kebimbangan akhirnya, karena aku tidak mau diselimuti keraguan maka aku pun tidak memenuhi panggilan psikotes tersebut. Tapi bukan karena tidak mau, tapi karena aku sakit -seperti disengaja jadinya.
Tapi aku tetap yakin, walaupun yang dihadapanku itu belum tentu seratus persen ditangan. Semoga
25 April 2008
Nggak jadi ilmuwan, ane kabur!
Sesampainya di sana, walaupun belum waktunya, karena masih beberapa jam lagi dari waktu janjian akupun langsung naik ke lantai yang memang rencananya hendak dituju. Banyak rintangan yang tidak memilukan tetapi rasanya sungguh memalukan. Betapa tidak, aku masuk ke gedung yang berpengamanan sangat ketat. Disitu aku benar-benar kelihatan wong deso, urang kampung mulai dari pemeriksaan barang bawaan di pos penjagaan sampai mau masuk dengan kartu tanda pengunjung yang gimana... gitu aku jadi malu, benar-banar malu. Untungnya orang lain pada sibuk dengan mobilitasnya jadi aku sedikit merasa aman walaupun ya... wirang pisan.
Naik lift pun salah, untungnya bukan salah karena tidak bisa tapi salah tempat naik doank. Sesampai di lantai yang dimaksud, aku langsung masuk dan menemui satpam, terus disuruh menemui resepsionis. Ternyata yang tadinya mau datang jam dua siang malah sudah mengisi daftar tamu yang disediakan. Setelah selesai mengisis formulir aku pun langsung pamit untut sholat jum'at. Si resepsionis melarang, lalu aku kasih penjelasan nanti aku balik lagi.
Tau nggak ternyata, setelah sholat jum'at kayaknya aku dapat ilham. Dengan sedikit pikir-pikir dulu aku pun langsung naik bus way, tancap gas.....Jadi bohong nih hari ini.
Jadinya ane nggak jadi ilmuwan soalnya keburu kabur sebelum rasa ingin tahu ane terobati semuanya.